Kemerosotan kualitas lembaga pendidikan kerap berawal dari hal yang tampak sepele, tetapi berdampak sistemik: guru tidak diberi ruang untuk tumbuh. Ketika pendidik dibatasi kesempatannya untuk mengikuti pelatihan, seminar, atau forum pengembangan yang diselenggarakan pihak eksternal, maka yang terjadi bukan sekadar stagnasi individu, melainkan kemunduran institusi secara perlahan.

Sering kali, larangan tersebut dibungkus dengan alasan normatif: kegiatan belajar mengajar dan pendampingan murid dianggap jauh lebih prioritas. Logika ini tampak masuk akal di permukaan, namun rapuh jika ditelaah lebih dalam. Sebab, apa yang sejatinya akan diajarkan seorang guru kepada muridnya jika ia sendiri tidak terus memperkaya bekal keilmuan? Pengetahuan bukan barang statis. Ilmu berkembang, pendekatan berubah, dan tantangan peserta didik hari ini jauh berbeda dengan satu dekade lalu.

Lebih dari itu, memiliki ilmu saja tidaklah cukup. Guru dituntut memahami bagaimana ilmu tersebut disampaikan secara efektif, kontekstual, dan menyentuh realitas murid. Metode pembelajaran, strategi diferensiasi, pemanfaatan teknologi, hingga pendekatan psikologis dalam kelas, semuanya membutuhkan pembaruan berkelanjutan. Tanpa pengembangan diri, guru akan terjebak pada pola lama yang mungkin sudah tidak relevan, bahkan kontraproduktif.

Ada ungkapan mengatakan, "faqidus syai' laa yu'ti"

Orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan bisa memberi. 

Dunia pendidikan pada hakikatnya bersifat dinamis. Perubahan kurikulum, penyesuaian regulasi sekolah formal, serta tuntutan kompetensi abad ke-21 menuntut guru untuk adaptif dan reflektif. Menutup akses guru terhadap ruang belajar baru sama artinya dengan memutus denyut inovasi di sekolah. Lembaga pendidikan yang besar bukanlah yang paling ketat mengontrol gurunya, melainkan yang paling berani mempercayai dan memberdayakan mereka.

Memberi kesempatan guru untuk berkembang sejatinya bukan mengorbankan murid, justru sedang menyiapkan masa depan mereka. Guru yang terus belajar akan mengajar dengan lebih bermakna, menginspirasi dengan keteladanan, dan membimbing dengan wawasan yang luas. Ketika guru bertumbuh, murid ikut maju. Dan ketika lembaga pendidikan berani membuka diri terhadap pengembangan guru, di situlah kualitas sejati pendidikan mulai dibangun.


Next
This is the most recent post.
Posting Lama

0 comments:

Posting Komentar