Kamis, 29 Mei 2025

Kita Disatukan Oleh Islam, Tidak ada Perbedaan Antara Arab dan Ajam (Non Arab)


Kita adalah satu umat yang dipersatukan oleh ikatan yang tak terlihat, namun amat kuat yaitu Islam. Kita semua menghadap kiblat yang sama, melafazkan kalimat yang sama, dan mengimani satu Tuhan yang Esa, dengan kalimat tauhid: Laa ilaaha illallah. Dalam pandangan Islam, tidak ada keunggulan antara orang Arab dan non-Arab (Ajam). Yang membedakan derajat manusia di sisi Allah hanyalah ketakwaan, bukan ras, suku, atau kebangsaan.

Sejarah Islam penuh dengan teladan bahwa kehebatan dan kemuliaan tidak terbatas pada satu bangsa. Shalahuddin Al-Ayyubi, sang penakluk Baitul Maqdis (Yerusalem), bukan dari suku Arab, melainkan berasal dari bangsa Kurdi yang kini wilayahnya terbentang di Irak utara, Suriah utara, Turki tenggara, dan Iran barat. Hanya Umar bin Khattab yang berhasil membebaskan Yerusalem yang berasal dari bangsa Arab. Maka, tidak mengherankan jika harapan umat kini banyak tertuju pada sosok dari negeri jauh, non-Arab, untuk kembali membebaskan Al-Aqsa.

Begitu pula dengan Thariq bin Ziyad, penakluk Andalusia, yang berasal dari bangsa Berber Afrika Utara, sebuah bangsa non-Arab. Muhammad Al-Fatih, pemuda penakluk Konstantinopel, adalah keturunan Turki. Saifuddin Quthuz, yang menghentikan gelombang serangan pasukan Tatar, merupakan seorang Mamluk, berasal dari kawasan Asia Tengah. Barakah Khan (Berke Khan), pemimpin Mongol pertama yang masuk Islam dan menolak aliansi dengan Hulagu Khan, adalah keturunan bangsa Mongol.

Mereka semua datang dari latar belakang etnis, bahasa, dan budaya yang berbeda, namun dipersatukan oleh satu identitas: keimanan kepada Allah dan kecintaan kepada agama Islam. Mereka adalah pahlawan sejati—"The Real Superheroes"—bukan karena darah bangsawan atau keturunan ningrat, melainkan karena pengabdian total mereka kepada Islam.

Tak hanya para pahlawan, tetapi juga para ulama besar yang meletakkan fondasi keilmuan Islam berasal dari luar Jazirah Arab. Imam Bukhari (Uzbekistan), Imam Muslim (Iran), Ibnu Majah (Iran barat laut), Abu Dawud (wilayah Iran-Afghanistan), Imam Tirmidzi (Uzbekistan selatan), dan Imam Nasa’i (Turkmenistan), mereka semua berasal dari negeri-negeri non-Arab. Namun karya-karya mereka, termasuk Kutubus Sittah (enam kitab hadis utama), menjadi rujukan utama umat Islam sedunia setelah Al-Qur’an.

Mereka tidak hanya menyumbangkan ilmu, tapi juga membuktikan bahwa Islam adalah peradaban yang universal, bukan milik satu etnis atau bangsa.

Islam memang lahir di tanah Arab, namun sama sekali tidak eksklusif untuk bangsa Arab. Allah tidak mengistimewakan suatu kaum kecuali dengan takwa. Lihatlah: Abu Lahab, paman Nabi yang berasal dari Bani Hasyim, suku mulia Quraisy, dijanjikan neraka. Sementara Bilal bin Rabah, budak dari Habasyah (Ethiopia), dijamin surga. Abu Jahal, tokoh Quraisy, juga bernasib sama. Sedangkan Salman Al-Farisi dari Persia dan Shuhaib Ar-Rumi yang berasal dari Romawi, termasuk ahli surga.

Orang-orang yang dianggap tinggi oleh masyarakat karena nasab dan harta, ternyata banyak yang binasa karena kesombongan. Sebaliknya, mereka yang dulu tertindas dan dipandang rendah, justru ditinggikan oleh Allah karena keikhlasan dan ketakwaan mereka.

Kita dimuliakan karena Islam, dan sebaliknya, akan dihinakan jika meninggalkannya. Kejayaan dalam ilmu pengetahuan, budaya, ekonomi, dan kekuatan militer, semuanya bersumber dari satu identitas kebanggaan yang sejati: Islam.

Label apapun yang melekat pada tubuh kita—status sosial, suku, warna kulit, kebangsaan—semuanya akan tak bermakna jika kita terjebak dalam fanatisme jahiliyah yang mengutamakan identitas lahiriah di atas iman.

Umat Islam hanya akan kembali mulia jika mereka menjadikan Islam sebagai identitas utama mereka. Ketika cinta terhadap agama dan Nabi Muhammad SAW mengalahkan batas-batas negara, etnis, dan golongan, maka di situlah izzah (kemuliaan) umat akan kembali terangkat.

Sebaliknya, mereka yang hanya membanggakan tahta, harta, dan warisan nenek moyang, tanpa menjadikan Islam sebagai pegangan hidup, hanyalah terperangkap dalam ilusi kejayaan semu yang akan runtuh saat realitas menuntut makna sejati dari hidup ini. Lalu ia akan terpenjara dalam halusinasi semboyan-semboyan kosong yang tak bermakna.


Sumber: Facebook Yuuf Al-Amien

Senin, 26 Mei 2025

Belajar Qiroah

 


Sekitar tahun 2000-an awal, saya pernah diajak menghadiri kenduri (kondangan) oleh salah satu guru saya ke kota palembang, saat itu saya masih kelas tiga MTs (setara SMP). tidak ada yang istimewa sih dalam acara itu, hanya saja ada satu momen yang membuat saya mengerutkan kening sekaligus merasa aneh karena mendengar bacaan Al-Qur'an seorang Qori' di acara tersebut sangat asing di telinga. Bacaan yang dibaca Qori' tersebut sangat tidak familiar bahkan belum pernah saya dengar sama sekali.

Singkat cerita, sepulang dari acara tersebut dengan memberanikan diri saya bertanya kepada guru saya yang mengajak ke acara tersebut. Beliau lalu menjelaskan bahwa tata cara baca Al-Qur'an itu variatif, ada 7 bahkan 10 riwayat yang masyhur dalam ilmu qiro'ah. Sejak itulah saya pertama kali mendengar istilah qiro'ah sab'ah. Sampai waktu saya naik kelas 1 Aliyah (SMA) kami mulai diajarkan materi ulumul qur'an, di materi itulah kita diajarkan tentang ilmu qiro'ah dan imamnya seperti; Imam Nafi’ bin Abdurrahman (w. 169 H). Imam Abdullah bin Katsir (w. 120 H). Imam Abu Amr (w. 154 H). Imam Abdullah Ibnu Amir (w. 118 H). Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufiy (w. 128 H). Imam Hamzah bin Al-Zayyat (w. 156 H). Imam Ali bin Hamzah Al-Kisa'i.

Sementara kita di Indonesia menggunakan qiro'at Imam Ashim dengan jalur riwayat Imam Hafsh dan dengan cara (Thariqah) As-Syâthibi. Riwayat bacaan inilah yang difokuskan pengajarannya oleh guru-guru ngaji kita dulu, sehingga wajar jika kemudian ada yang merasa aneh ketika mendengar bacaan yang berbeda, sebab jarang sekali qiro'ah sab'ah tersebut diajarkan kecuali hanya di beberapa lembaga saja. Kalau pun diajarkan, tidak semuanya juga yang langsung mengajarkan praktek cara bacanya.

Buku yang saya pegang ini salah satu matan atau nazhom yang dikarang oleh Imam As-Syathibi tentang ilmu qiro'ah. Saya berkali-kali berkerut kening dalam usaha memahami makna kalimat perkalimat yang disampaikan oleh pensayarah kitab ini, tidak jarang saya harus bolak balik buka kamus lagi 🙂

Allahummarzuqna uluuman naafi'a...